Selasa, 26 Juni 2012

Kita 'N Make Up

Di umur- umur kita ini, biasanya penampilan jadi hal yang biasa pertama diperhatikan. Terutama buat yang cewek- cewek. Tapi buat para makhluk adam, mereka juga nggak kalah heboh lho, buat urusan yang satu ini. Makanya, jangan heran kalau pemandangan cowok pergi ke salon adalah hal yang lumrah dan nggak asing buat kita.

Yups, seterusnya pandangan kita tertuju pada apa yang nampak dari badan kita. Mulai dari hidung yang kurang mancung sampai di rela- relain dijepit pakai jepit jemuran tiap mandi, atau mata yang kecil dan sayu yang dipasang- pasangin bulu mata. Bisa juga berupa pipi yang tembem yang di kamuflase pakai bedak, dll.

Tujuan akhirnya, adalah gimana caranya biar muka bisa tetep kece di namapun berada. Alhasil, nggak sedikit yang kemudian make up pun jadi sasaran yang pas buat diandalkan. Nggak perduli amatir ataupun ekspert dalam hal tata rias, tapi kalau keluar rumah judulnya udah pakai make up, hatipun serasa tenang sangat.  
Buat yang cewek, eyeliner, blush on, minyak wangi, lip gloss, sampai penjepit bulu mata, bisa jadi perabotan andalan yang mungkin bakal ada di setiap tas kita. Pernak pernik mulai dari hiasan kepala sampai kaki juga banyak tersedia di toko- toko. Nggak ketinggalan, soal diskon kosmetik, jadi perkara wajib yang harus didatangi.

Friend, nggak ada salahnya kita dandan, namanya juga cewek euy. Tapi sayang banget, saking sukanya dengan dunia yang satu ini, banyak dari kita yang kemudian jadi suka banget belanja, dan masuk ke wilayah tabaruj alias show up keindahan yang kamu punya buat menarik perhatian cowok- cowok dalam hal syahwat.
Gawaaaat!! loh kok bisa?

Yups, may be buat sebagian kamu, perkara ginian cuman sekedar mampir di telinga bentar, habis itu nggak berbekas. Asli friend, ternyata nggak sesimple itu. Nggak percaya? Denger pesan manusia termulia, Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam berikut ini: “wanita mana saja yang memakai wewangian, kemudian dia melewati kaum (laki-laki) agar mereka mencium baunya maka dia pezina” (HR. An Nasa’i, Abu Dawud, At Tirmidzi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Dua golongan ahli neraka yang belum aku lihat: Orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi, mereka mencambuki manusia dengannya; dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan menggoyangkan kepalanya seperti bergoyangnya punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya itu bisa dicium dari jarak sekian dan sekian” (HR. Muslim)

Ngeri banget kan??

Maka dari itu, sudah saatnya friend kita berpikir realistis dan kembali kedunia nyata, tampil cantik itu nggak harus menor dan bukan urusan tentang make up dan cantiknya wajah, nggak melulu jadi hal yang "wajib" dipikirkan banget- banget. Dengan tampil apa adanya kamu, malah bisa lebih membuat kamu fokus pada apa yang kurang dari kamu dari sisi yang lebih penting, prestasi contohnya. Serius friend, ridho Allah dan masa depan kita adalah hal yang sangat lebih penting untuk diperhatikan ketimbang hanya ngurusi bagusnya badan dan wajah saja.

Selasa, 12 Juni 2012

Sebuah Mahar Mulia

Setiap wanita pastilah memiliki mimpi yang indah bagi kehidupan pernikahannya. dan ketika gerbang pernikahan telah di depan mata, pastilah juga akan banyak hal yang dipersiapkan. Salah satunya adalah tentang mahar yang akan diterima sang wanita dari calon suami mereka.

Telah banyak kita mendengar, tentang kenyataan yang beredar di luaran, tentang besarnya jumlah permintaan mahar dari sang calon istri. Seolah-olah tergambar bahwa menikah itu sangat mahal dan sulit dilakukan.

Saudariku yang dirahmati Allah...

Sudahkah sampai kepada kita tentang kisah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah, atau yang dikenal dengan nama Ummu Sulaim?

Beliau adalah salah satu wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Telah terukir dalam hati beliau keterikatan hati kepada Islam, dan lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia.

Bahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam.

Abu Thalhah, seorang yang kafir, namun sangat tertarik kepada beliau, karena Kesabaran dan ketabahannya menghadapi cobaan. selanjutnya, Abu Thalhah pun melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi.

Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap semua harta dunia itu.

Beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i).

Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.

Kisah ini membuktikan betapa kemuliaan Ummu Sulaim yang menjadikan iman dan islam lebih tinggi kedudukannya dari pada hanya sekedar permintaan harta dunia kepada suaminya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Hr. Nasa’i).

Subhanallah....

Saudariku yang dirahmati Allah, memang mahar adalah pemberian yang diberikan oleh suami kepada kita sebagai istri dengan sebab pernikahan.

Namun alangkah baiknya jika hal tersebut tidak memberatkan dan menambah beban beliau sebagai suami kita.

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar? Sabda beliau “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Semoga kisah wanita mulia diatas bisa menjadi contoh teladan bagi kita semua dan meluruskan pandangan kita yang mungkin keliru dalam memaknai mahar. Dan semoga Ummu Sulaim sang wanita mulia tersebut, memotivasi kita agar belajar untuk lebih konsisten dengan keislaman kita. Aamiin.

(Syahidah/voa-islam.com)

Jilbab Syar'i itu Jilbab Fisik atau Jilbab Hati?

By: Yulianna PS
Penulis Cerpen “Hidayah Pelipur Cinta”

Hingga hari ini masih banyak wanita yang memperdebatkan masalah jilbab. Banyak dari mereka tidak mengenakan jilbab dengan alasan masih merasa hatinya belum terjilbabi. Statemen ini awalnya merebak di kalangan artis. Untuk menghindari dan mengingkari perintah hijab. Mereka menggunakan alasan di atas untuk menguatkan alasannya membiarkan kepalanya telanjang ditempat umum.

Pada hari ini, artis telah menjadi ‘berhala baru’ bagi anak muda. Tidak mengenal sahabat Rasulullah sudah menjadi hal yang dimaklumi, tapi tidak punya idola artis akan mendapat julukan kampungan, kuper dll. Setelah artis dijadikan berhala baru yang diidam-idamkan, dipuji-puji, dikagumi, apa saja yang artis lakukan akan di ikuti, termasuk artis yang tidak mengenakan hijab.

Dalam kenyataannya, statemen ‘ingin menjilbabi hati’ ini telah melekat di hati banyak wanita muda. Mereka enggan mengenakan hijab dengan alasan masih belum siap dan ingin menjilbabi hatinya dulu. Kelompok ini bukan tidak siap, tetapi bisa jadi enggan melakukan persiapan. Padahal perintah hijab itu bukan perintah biasa, tetapi perintah Allah SWT secara langsung bagi wanita beriman.

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan anak-anak orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Ahzab 59).

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.....” (An-Nur 31).

Jika wanita islam enggan mengenakan hijab, lantas apa bedanya mereka dengan wanita non muslim? Sesungguhnya hijab itu adalah pembeda antara wanita muslim dengan non muslim.

Tidak ada satupun ada perintah yang mengatakan bahwa jilbab hati itu merupakan hal yang urgent dibanding jilbab fisik. Statemen jilbab hati muncul dari kalangan mereka yang belum memahami ilmu hijab dengan baik.

Meski begitu, hijab itu bukan hijab yang menjadikan wanita tersebut tabarruj (memamerkan kecantikan), bukan pula yang bercorak-corak modis. Karena sesungguhnya ada batasan dan kriteria busana syar’i yang harus diperhatikan, antara lain:

1. Harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan, maka tidak boleh ditampakkan leher dan lain-lain walaupun hanya sebesar uang logam.

2. Bukan busana perhiasan yang justru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni.

3. Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis, dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk tubuhnya tampak atau transparan.

4. Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya.

5. Tidak menyerupai kaum laki-laki seperti memakai celana panjang (ketat), kaos oblong, dan semacamnya. Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.

6. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.

7. Bukan untuk mencari popularitas.

Jadi, jilbab hati itu tidak ada. Yang Allah perintahkan adalah jilbab fisik, adapun mengenai hati, itu merupakan kewajiban, tanpa harus menafikan masalah urgensi jilbab fisik. [voa-islam.com]

Mengapa Aku Belum Berjilbab?

Mengapa belum berjilbab? Kalo ditanya satu pertanyaan ini, jawabnya sih macem- macem. Mule dari prasaan masih kepengen gaya, ato ketakutan kalo orang naruh high expectasi tentang pengetahuan agama yg kudu gede ke kita. Selain itu may be dari kamu mrasa kudu ngaca diri, ntah karena sholatnya bolong-bolongnya masih parah banget, ato karena urusan masih punya pacar, dll, dsb. Seribu satu alasan niy yang bikin ragu2 dan jadi alasan paling kuat dari sebagian besar cewek- cewek muda yg ingin berjilbab.

Tapi kalo ditanya, apa kamu islam? pasti jawabnya iya. Girls, semua yang ada di dunia pasti penuh dengan konsekwensi. Jadi orang islampun juga kaya' gitu. Saat kita bersyahadat, bersumpah kalo tidak ada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, brati kita udah ikrar kalo kita akan patuh pada semua aturan en batasan yang dibuat Allah Subhanahu Wata'ala dan yang ada dalam sunnah Rasulullah Salallahu alaihi Wassalam. Nggak pake nawar apalagi ngeles, hee..

Coba deh switch pemikiran kamu, bayangin gimana kalo orang idup, apalagi kita yang muda- muda ini, idup tanpa ada batasan. Bebas aja, tralala trilili. Pertama sih mungkin ngerasa bakalan enjoy ajah, tapi akhir- akhirnya pasti bakal nyesel. Bukan apa- apa sob, emang udah takdir dari sononya, yang namanya manusia hidup butuh aturan, kalo nggak yach apa bedanya sama hewan. Aturan tuh bukan buat ngikat apalagi nyiksa, tapi muliain manusia.

Kalo masih ragu tentang jilbab kamu, coba deh berpikir positif skali lagi. Jilbab bukan menyiksa apalagi paksaan buat kamu. Tapi alhamdulillah walo cuman sekedar kain, itu bisa semacam alarm berjalan kamu yang justru bakal ngingetin kalo mau maksiat. Hidup dalam aturan tuh sebenarnya nikmat, en nggak mengekang. Dan satu- satunya yang terkekang dari aturan itu adalah nafsu kamu.

Dengan pakai jilbab kamu akan lebih mudah dikenali sebagai seorang muslimah. Jangan minder dengan identitas diri yang kamu punya. itu kebanggaan loh.Simbol dari kamu yang udah taat ato mungkin baru belajar taat, bukan cuman sama ortu tapi sama Zat yang udah ngebentuk kamu jd secantik sekarang. Belum lagi penilaian kalo pengendalian diri kamu brati udah ada sementara yang laen malah milih seenak nafsu mereka sendiri. So, kamu lebih baik kan?

Dan siapa bilang kalo dengan pake jilbab brati kita memangkas potensi diri? Ah udah nggak jaman banget punya pikiran bgono sob. Contoh udah banyak, nggak kudu disebutin satu- satu. Nggak di tipi ato may be di lingkungan sekitarmu, pasti kamu udah bisa menilai sendiri kan.

Apa kamu juga masih bingung soal konsekuensi pengetahuan agama yang kudu gedhe kalo udah berjilbab? jangan kawatir dah. Yang namanya belajar kan proses non, nggak bisa sekali duduk langsung langsung Ting! paham gitu. Khayalan banget tuh. En Sepintar- pintarnya manusia nggak kan mungkin melebihi dalamnya ilmu Allah. Kalo ada manusia laen yang ngerasa dirinya lebih pintar dari kamu trus ngejek ato ngerendahin kamu, nggak usah minder lagih, tu brarti dia juga belum banyak berilmu. Nggak ada cerita orang yang berilmu dan takut sama Allah akan sombong sob.

Bener deh, hidayah itu indah banget teman. En kamu baru bisa ngrasain indahnya kalo kamu ndiri terlibat didalamnya. Dan syarat biar kita ngedapet hidayah, trus ringaan banget nglakuin kebaikan, cuman satu. Kita kudu ikhlas nglakuin semua karena Allah. Coba deh, buang prasaan nggak mau tau ato sekedar nafsu dunia kita bentaran ajah. Kita bahas sedikit tentang ini. Bayangin ajah gimana kalo orang yang diperintah boss nya yang udah ngegaji dia, ngasih dia banyak hal, belum lagi berjasa banget dalam hidup dia, tiba- tiba pas itu boss perintahin dia sesuatu, tapi aja masih juga tuh orang ngeles dengan alesan yang nggak mutu. Bayangin pasti bakal marahnya kaya' apa coba. Orang juga bakal menilai nggak tau trimakasih en kurang ajar banget kan tuh orang. Fiuuh, tuh baru manusia dengan manusia, trus pgimana crita kalo tuh adalah antara kita dengan Allah, sob. Bisa mikir ndiri kan klanjutannya.

Bisa ngitung nggak, sbanyak apa yang udah dikasih Allah ma kita?. Pasti dijamin 100% nggak bakalan abies kalo di itung. Trus kembali ke soal perintah pke jilbab, mungkin nggak kalo yang Maha Penyayang tiba- tiba cuman mau nyengsaraain kita dengan semua tuh. Pecaya aja dah, asli, perintah Allah nggak akan ngejahatin apalagi nyiksa kita, yang ada malah kita sendiri yang sering kali nggak cukup baik ngejaga diri kita.

Allah yang paling muliakan kita, lebih dari diri kita sendiri. Allah juga yang paling ada buat kita saat siapapun nggak ada buat nemenin kita.

Kadang kita lebih banyak ngedahuluin akal en prasaan plus prasangka- prasangka yang nggak mutu en belon valid kebenarannya. Ya gitu dey, kebukti kan, kalo setan nggak bakal rela liat kita baek. Dikasih aja was- was ketakutan en kecerdasan buat ngeles dengan seribu satu alesan. Tapi ujung-ujungnya pasti deh, kerugian juga bakal balik ke kita lah, siapa lagih. So, cepet ambil keputusan yang terbaik buat idup kamu, lagian dah gedhe inih juga kan. Buktiin kalo kamu bisa Jadi pemimpin terbaik dari diri kamu sendiri, en buat kebanggan atas semua itu, buat diri kamu sendiri, girls. Good Luck!.

(Syahidah/Voa-islam.com)

Aku Bangga menjadi Muslimah

Bangganya aku menjadi muslimah, karena Islam yang hadir sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaumku dan mengangkat derajatku dalam martabat yang manusiawi. Karena kemuliaan Islam yang sangat tinggi pula, maka aku dan kaumku terbebas dari penindasan seperti dijaman jahiliyah. Dijaman itu, dimana kelahiran para wanita selalu di anggap sebagai aib besar bagi keluarga terutama sang ayah. Karena itulah mereka tega mengubur kaumku hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina.

Bahagianya aku menjadi muslimah karena tak ada beda antara kami dan para laki- laki, dalam hal timbangan kemuliaan dan ketinggian martabat di sisi Allah subhanahu wata’ala. Karena kesemuanya itu hanyalah terbedakan atas nama takwa. Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya:

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)

Kami tak perlu memaksakan diri menjadi laki- laki dan memasuki "kawasan" laki- laki hanya untuk dianggap lebih mulia, seperti yang di ajarkan oleh paham emansipasi barat. Kami para wanita memiliki tugas sendiri, dan jalan sendiri untuk meraih surga. Rasulullah Saw bersabda: “Jika seorang isteri itu telah menunaikan shalat lima waktu, dan shaum (puasa) di bulan Ramadhan, dan men-jaga kemaluannya dari yang haram serta taat kepada suaminya, maka akan di-persilakan: masuklah ke surga dari pintu mana saja kamu suka.” (HR. Ahmad)

Bangganya aku menjadi muslimah, karena aku tidak terendahkan seperti hewan. Hal itu karena Perintah Robbku yang mengajarkan bahwa wanita haruslah menutup auratnya. Allah SWT berfirman :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab: 59).

Namun sebagai manusiawinya seorang wanita, kamipun menyukai berhias. Namun Islam mengajarkan agar kami hanya menjadi perhiasan bagi para suami kami, maka dari itu kamipun berhias diri di rumahnya sendiri dan hanya untuk suami kami, bukan di luar rumah atau di tengah jalan untuk di obral kepada mata- mata jalang, para laki- laki tak beriman.

Tenangnya aku menjadi muslimah, karena Allah mengajarkan kepada para lelaki untuk juga senantiasa menghargai dan memperlakukan aku dan keluargaku dengan baik. Mereka para laki- laki yang Bahkan manusia termulia Rasulullah SAw bersabda "Sesungguhnya diantara kesempurnaan iman orang-orang Mukmin ialah mereka yang paling bagus akhlaknya dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya".

Umar r.a, sahabat Rasulullah SAW yang dikenal berwatak keras itu bahkan pernah berkata, "Seyogyanya sikap suami terhadap isterinya seperti anak kecil, tetapi apabila mencari apa yang ada disisinya (keadaan yang sebenarnya) maka dia adalah seorang laki-laki."

Bahagianya aku menjadi muslimah, karena keadilan bagi kamipun di jamin dalam islam, bahkan dalam urusan harta. Allah SWT memang menentukan bahwa bagian lelaki dari mendapatkan warisan adalah dua kali lipat dari warisan anak wanita, namun syariat ini selaras dengan garis kodrat lelaki yang berkewajiban untuk menafkahi dan memimpin kaum wanita. Dengan demikian, syariat ini adil dan aku sebagai wanita tak perlu merisaukan. Walaupun wanita mendapatkan bagian yang sedikit, namun para wanita seperti aku ini dapat menikmati seorang diri. Ini sesuai dengan firman Allah SWT berikut ini,

“Kaum lelaki (suami) adalah pemimpin kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian lainnya (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisa: 34)

Sungguh masih banyak kemuliaan islam yang mengangkat derajat aku dan kaumku sebagai wanita. Betapa hanya islam yang mengindahkanku dan memuliakanku menjadi wanita yang lebih mulia. Sungguh hanya islam yang bisa aku jadikan pedoman hidup terbaik, untuk aku wariskan kepada keturunanku, dan hanya dengan islam ketenangan dan kesejukan hidup menjadi seorang wanita itu terasa. Lalu bagaimana aku tak bangga menjadi muslimah?

(Syahidah/voa-islam.com)
Menjadi ibu, bukanlah hal yang sederhana namun sungguh sangat mulia. Ibu seringkali dipilih untuk menjadi itu tempat sandaran dan penerima curahan hati anak- anaknya, termasuk suaminya.

Siapapun tak bisa memungkiri bahwa pada kenyataannya ibulah juga yang mengambil jatah yang besar dalam pembentukan dan perbaikan pribadi sebuah generasi serta keberlangsungan kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga.

Robert Blum, MD, PhD, Seorang peneliti, dan direktur Pusat Kesehatan dan Perkembangan Remaja University of Minnesota seperti dilansir WebMD, menjelaskan bahwa, anak- anak remaja laki-laki yang merasa dekat dengan ibu mereka serta menganggapnya sebagai sosok yang hangat dan peduli lebih mungkin menunda berhubungan seks. Dan remaja perempuan yang ibunya sering berbicara dengan orangtua teman-temannya lebih kecil kemungkinannya melakukan hubungan seks di usia dini.

Itu baru salah satu contoh tentang begitu besarnya peran ibu dijaman modern ini sebagai "penjaga gawang" masa muda anak- anak mereka.

Sejarah juga telah mengukir kisah tentang peran para ibu sebagai penulis dari masa keemasan tokoh- tokoh besar dunia.

Tersebutlah Khansa Tamadhir binti Amr, seorang ibu yang mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ketika berita tentang kematian anak-anaknya sampai kepadanya, wanita beriman ini sama sekali tidak bersedih hati apalagi meratap. Bahkan kalimat beliau dalam menanggapi semua itu, telah dicatat oleh masa,

"Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kesyahidan mereka. Aku berharap pahala dari Rabb-ku semoga Ia mengumpulkanku bersama mereka di tempat yang penuh kasih sayang-Nya (surga)".

Bahkan Umar bin Khathab pun mengakui keutamaan Khansa' sebagai ibu dari para syuhada.

Sungguh, peran seorang ibu sangatlah luar biasa dibalik kelemahan dan keterbatasannya sebagai seorang wanita.

Dan dijaman modern ini, dimana tuntutan dalam segala hal terasa semakin mendesak, bahkan tak jarang hal ini tidak memberi jeda para ibu untuk sekedar memikirkan keadaan dan pengutamaan diri mereka sendiri.

Sebagai contoh, hanya untuk sekedar tentang badan sendiripun para ibu banyak yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada lingkar pinggang, salon dan atau jalan- jalan. Dan lagi- lagi, kebutuhan dan kebahagiaan keluarga adalah selalu menjadi proritas nomor satu untuk dilakukan.

Namun hal itu bukanlah hal yang menyedihkan, tapi justru pelajaran hidup yang sangat berharga. Menjadi ibu memanglah penuh dengan konsekuensi, serta tanggung jawab.

Maka dari itu, sudah selayaknya seorang wanita mengedepankan keikhlasan dalam menjalani semua itu. Karena percayalah, dalam beratnya pelaksanaan sebuah kewajiban yang besar, akan ada imbalan yang tidak kecil, dari sang Maha menciptakan.

Jadi, memanglah benar adanya bila ada kalimat yang mengatakan bahwa "Jika ada surga di dunia, maka itu adalah memiliki seorang ibu yang penyayang, serta sangat pengertian dan telaten merawat keluarganya. Tetapi jika ada neraka di dunia itulah gambaran dari memiliki seorang ibu yang berakhlak buruk kejam dan acuh dan tidak tangguh dalam membawa keluarganya menjadi lebih baik."

Wahai Para ibu, menjadi tangguhlah dalam keluarga, maka kau akan ternilai oleh Allah sebagai wanita yang mulia. Insyaallah...

Ternyata Ada ''Tuhan'' Lain

Tak terasa umur kita sebagai manusia, semakin bertambah. Tanggung jawab dan kewajiban kita sebagai pemeran tokoh dari apapun di dunia, juga semakin menumpuk.

Disela- sela kesibukan yang sangat itu, kadang terselip sebuah kesalahan kita sebagai manusia. Salah satu dan yang paling penting diantaranya adalah tentang tuhan kita.

Sebagai seorang muslim, kita diajarkan belajar tauhid setiap hari lewat ibadah sholat yang sehari 5 kali wajib kita lakukan. Namun walaupun niat sudah mantab karena Allah, tapi siapa yang bisa menjamin kalau kita tidak memikirkan "tuhan" yang lain yang bersliweran di pikiran kita.

Memang begitulah kenyataannya, kadang kita sekalian masih hanya sekedar melakukan ibadah shalat sebagai sebuah ritual rutin dan bukan mendirikan shalat. Sambil terselip di hati, bahwa ketika shalat kita sudah tunai, maka hati akan tenang karena kewajiban kita pun sudah selesai.

Dan itu barulah hal tentang sholat. Pastilah masih banyak kesalahan- kesalahan yang lain yang tidak bisa kita uraikan satu persatu secara detail.

Benar- benar, dunia memanglah sangat menarik namun menyibukkan. Dan kadang atas nama menghindari kefakiran, banyak dari kita justru melewati ambang batas kekafiran, yaitu menuhankan sesuatu kemudian melekatkannya erat- erat dalam hati, sehingga entah dimana lagi kecintaan kepada Allah, bisa diagungkan.

"Tuhan" lain kita, atau lebih tepatnya sesuatu yang kita begitu mengagungkannya selain Allah Subhanahu Wata'ala, secara sadar ataupun tidak telah menyesaki dan menyita pikiran dan hati kita.

Pekerjaan, uang, kesibukan dunia, suami, istri, anak, dll, seakan telah sedemikian sukses menggiring arah pikiran kita menuju seperti yang mereka mau. Entah itu adalah hal yang di ridhoi Allah ataupun tidak, kadang entah kita sendiri masih sempat memikirkannya atau tidak.

Padahal Allah telah berfirman dalam Al-Hadiid ayat 20, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Di sadari atau tidak, tidak selalunya hal- hal duniawi yang kita agungkan tersebut membawa ketenangan bagi diri kita. Ataupun jika hal itu sekarang membahagiakan, maka tentu saja akan ada batas kadaluarsanya.

Dan semudah membalik tangan, kadang hal tersebut tidak jarang malah akan menghinakan dan menjauhkan kita dari kedamaian. Karena pada dasarnya ketika seorang manusia telah kehilangan Allah, maka tidak akan ada tempat yang cukup luas bagi diri hatinya, bahkan walau hanya sekedar tempat untuk melegakan diri.

Jika dengan kasih sayang Allah batin kita akhirnya bisa menyadari semua itu, maka sungguh kita juga akan tersentak, bahwa Allah memanglah Maha penyayang, bahkan kepada hamba-hamba yang bebal seperti diri kita. Kasih sayang serta nikmat Allah bahkan tiada putusnya melingkupi setiap hari kita.

Dan betapa beruntungnya kita, karena dengan sepaket dosa yang kita sadari atau tidak tetap kita lakukan, namun kita masih diberi kesempatan setiap detiknya oleh Allah untuk kembali ke jalan yang di ridhoinya.

Maka, jika bukan saat ini, lalu siapakah yang dapat menjamin bahwa dihari esok kita masih bisa berkesempatan untuk mengubah konsep "tuhan" yang seharusnya hanya menempatkan Allah Subhanahu Wata'ala sebagai satu- satunya tuhan kita yang pantas disembah, diakui serta diutamakan?

Dan bukan "tuhan- tuhan " yang lain yang justru lahir sebagai produk dari pikiran kita sendiri karena kecintaan kita terhadap dunia.

Semoga Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri dan iman kita. aamiin.

(Syahidah/Voa-islam.com)

Heiiii Cantik, Ngapain Kamu Berjilbab?

By: Yulianna PS

Penulis Kumcer “Hidayah Pelipur Cinta”

Pernah ga sobat denger pertanyaan “ngapain sih pake jilbab, masih muda khan jadi ga keliatan cantiknya?”, atau pernyataan “aku mau pake tapi jika dah nikah nanti”, atau kalimat sejenisnya yang menyatakan keberatan berjilbab. Mungkin kalimat di atas tidak menimpa diri kita, tetapi temen deket atau kerabat. Semua tahu dan sepakat, tidak ada pertentangan bahwa berjilbab itu wajib bagi wanita balig, yang mengaku muslimah tidak ada alasan untuk mencari-cari alibi menghindari menutup aurat.

Allah Azza Wa Jalla yang menciptakan manusia, paling Mengetahui perkara yang mendatangkan maslahat (perkara yang membawa pada kebaikan) dibanding manusia itu sendiri. Allah Maha Mengetahui, Maha Kasih Sayang dan Maha Bijaksana kepada hamba-hamba-Nya.

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan kamu rahasiakan), dan Dia Maha Halus dan Maha Mengetahui?” (Qs Al Mulk 14).

...Menutup aurat itu mengandung banyak kebaikan bagi wanita, meski banyak yang menyelewengkannya sehingga muncul sejuta alasan untuk menolaknya...

Menutup aurat itu sendiri juga mengandung banyak kebaikan bagi wanita, hanya saja banyak yang menyelewengkan perintah ini sehingga muncul aneka ragam alasan untuk menolaknya. Masih segar dalam ingatan masyarakat, tahun 90an banyak statement sesat untuk menolak berjilbab. Pelajar akan dikatakan sulit mencari kerja jika belajar pada sekolah yang mewajibkan dirinya memakai jilbab.

Imbas dari rumor sesat ini akhirnya berkembang pada khalayak luas bahwasanya jilbab identik dengan kekolotan dan kemunduran. Kini kita hidup di era 2000an, era manusia semakin cerdas dan kritis menilai segala sesuatu, termasuk mengenai jilbab, muncul kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengenakan jilbab.

Jika suatu waktu nanti akan ada yang bertanya pada anda “Hei cantik ngapain berjilbab?” jawabnya cukup sederhana:

1. Sebagai bentuk ketaatan pada Allah Sang Pemberi hidayah, sebagaimana tercantum dalam surat An-Nur 31 dan Al-Ahzab 59.

2. Sebagai bentuk ketaatan pada apa yang dicontohkan Rasulullah dan istri-istrinya dalam menjaga diri agar terhindar dari fitnah, sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Ahzab 53.

3. Sebagai identitas pembeda antara muslimah dan non muslimah. Jika wanita mengenakan jilbab, maka semua manusia akan tahu jika dia muslimah, tetapi jika wanita ditempat umum tidak menutup aurat, agama dan keimanannya masih diragukan.

4. Sebagai pelindung diri dari laki-laki tidak baik. Jika wanita itu mengenakan jilbab, sangat kecil kemungkinan untuk diganggu atau dilecehkan, berbeda dengan wanita yang mengenakan pakaian seksi. Ketika wanita mengenakan pakaian seksi ditempat umum, ada sepucuk pesan dibalik pesonanya, yang kurang lebih begini “hei cowok, gangguin kita dunk!” ^_^

5. Sebagai pelindung kulit. Ketika siang hari mengharuskan wanita beraktivitas diluar rumah, sangat rentan kulitnya cepat rusak dan terlihat tua sebelum waktunya, padahal kulit sehat merupakan dambaan setiap wanita, pemakaian jilbab secara benar akan melindungi dan menjaga kulit wanita dari ganasnya sinar matahari. Bukan hanya matahari, sebagian manusia yang menempati bumi juga mengalami musim dingin di banyak negara. Bagi wanita, jilbab merupakan pelindung ampuh dari dinginnya cuaca.

6. Sebagai pengontrol. Jika wanita tidak berjilbab, cenderung merasa bebas dan tidak terikat dengan pakaian yang dikenakannya. Berbeda dengan wanita berjilbab, jika ingin berbuat sesuatu yang melanggar norma-norma agama, maka ia akan berpikir matang, jilbab menjadi alat pengontrol dan pengingatnya.

So, cantik, ngapain ga berjilbab jika sudah tahu banyak manfaat dari berjilbab? ^_^

Ratu Bilqis atau Cinderella Teladan Muslimah?

Sosoknya kini tak lagi banyak dikenal orang. Meski kiprahnya di dunia modeling dan akting membuatnya populer dan kaya, petunjuk Allah SWT lebih dipilihnya untuk menjalani hidup sesuai dengan fitrah sebagai manusia.

Dulu untuk mendapatkan sebuah mobil Mercy atau rumah mewah di kawasan elit bukan sebuah perkara sulit baginya. Kontrak membintangi iklan atau sinetron bernilai miliaran rupiah lebih dari cukup untuk membiayai gaya hidup high class-nya. Kini demi mempertahankan jilbab dan penutup wajahnya, ia harus bekerja keras menjajakan dagangannya. Mulai dari obat-obatan herbal, pakaian Muslim hingga aneka gorengan. Semuanya untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan kedua anaknya yang harus bersekolah. Namun, ia bangga dan ia dapat tetap membiayai kedua anaknya dari keuntungan berdagang dan pertolongan Allah SWT yang seringkali tak disangka-sangkanya.

Hidup sebagai Muslimah sejati seringkali memang tak sesuai dengan keinginan. Apalagi impian kehidupan yang diamini banyak orang sebagai kehidupan yang ideal. Cita-cita sebagian besar perempuan untuk mendapatkan pendamping hidup yang rupawan, baik hati, dan berkantong tebal seringkali tersandung kenyataan bahwa orang yang ada di sisi dan kehidupan yang dijalani bukanlah seperti yang selama ini jadi harapan. Apalagi hidup dengan berpegang teguh pada tuntunan Allah SWT dan Rasulullah SAW tentu akan lebih banyak membawa kita pada realita bahwa hidup yang kita jalani tidaklah seindah cerita Cinderella.

…Cinderella, tokoh kartun rekaan Walt Disney, dikonsumsi oleh anak perempuan di seluruh dunia, menjadi sebuah trendsetter yang mewarnai mimpi mayoritas seluruh gadis kecil…

Cinderella, tokoh kartun rekaan Walt Disney tersebut, menjalani hidup penuh derita setelah kehidupannya sebagai seorang puteri bangsawan harus berakhir ketika ia memiliki ibu tiri dan dua orang saudara tiri. Namun, hidup penuh nestapa tersebut kemudian disudahi oleh seorang pangeran rupawan menjemputnya. Mengangkatnya dari kubangan hidup yang penuh derita dan miskin, pada kehidupan sebagai seorang puteri kerajaan yang penuh kemewahan dan romantis.

Kisah yang dikonsumsi oleh hampir seluruh anak perempuan di seluruh dunia ini, menjadi sebuah trendsetter yang mewarnai mimpi mayoritas seluruh gadis kecil. Belum lagi cerita-cerita Barbie yang laris manis di kalangan anak-anak perempuan, sungguh, merupakan penjajahan pikir generasi Muslimah. Sehingga, lebih banyak Muslimah yang ketika beranjak dewasa lupa, kehidupan yang akan mereka jalani adalah sebuah realita hidup yang nyata. Realita yang butuh kerja keras dan pengorbanan dengan tujuan yang jelas, mendapatkan ridha Allah Robbul ‘Alamiin.

Bila kemudian, hidup ternyata harus dijalani dengan kekurangan, kerja keras, bahkan pengorbanan sebagai sebuah harga untuk kebahagiaan sebagai seorang Mu’min, maka itulah hal yang seharusnya kita banggakan. Bangga sebagai seorang “Cinderella” yang dijemput Allah SWT untuk hidup dalam kerajaan iman, dalam ketenangan dan kemewahan perjuangan yang sarat petunjuk-Nya.

…Dengan kecerdasannya pula, Balqis, ratu Saba yang sebelumnya menyembah matahari kemudian tunduk beriman kepada Allah SWT…

Tengoklah kisah Ratu Balqis yang bahkan melebihi seorang Cinderella. Di seorang ratu, penguasa, pemimpin rakyatnya yang juga sangat bijaksana. Dengan akal yang tajam dan kewibawaannya, ia memimpin rapat dengan para pembesar negerinya dan memutuskan hal besar yang akan mengubah wajah negerinya setelah surat dari Nabi Sulaiman AS tiba di tangannya. Kecerdikan dan kewibawaannya terukir dalam surat An-Naml ayat 34-35:

“Dia berkata, ‘Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki sebuah negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina, demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirimkan utusan kepada mereka dengan membawa hadiah dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali utusanku.’”

Dengan cara mengirimkan hadiah, Balqis mengukur kemuliaan Nabi Sulaiman AS dan dengan kecerdasannya pula, Balqis, ratu Saba yang sebelumnya menyembah matahari kemudian tunduk beriman kepada Allah SWT.

Demikian pulalah seharusnya, setiap kaum Muslimah mengoptimalkan segenap potensi yang dimilikinya untuk mendekat pada ridha Tuhannya. Dalam porsi apapun kini kita dikaruniai Allah dalam menjalani hidup, maka di sanalah tempat kita untuk mencemerlangkan jati diri kita sebagai seorang Muslimah. Dengan standar Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan keridhaan-Nya, kemuliaan yang kita miliki tentu bukan hanya dalam ukuran duniawi tetapi juga jaminan kehidupan di surga nanti. [‘Aliya/voa-islam.com]